Bukan Seonggok Jagung Dari Kanreapia

Seonggok jagung ia di kamar
Tidak menyangkut pada akal
Tidak akan menolongnya
Seonggok jagung dikamar
Tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku
Dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
Dan hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tatapi kurang latihan bebas berkarya
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalanya?
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.

Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi”

Itulah beberapa penggal karya WS Rendra berjudul Seonggok Jagung. Relevan jika melihat fenomena masyarakat terdidik di negeri kita. Beberapa orang dengan latar belakang pendidikan tinggi memilih untuk berkarir di kota besar dengan gaji yang tinggi. Generasi platinum yang mengantongi ijazah sekolah ternama dari luar negara, beberapa diantaranya enggan pulang. Fasilitas dan kondusifitas terasa jauh panggang dari api di kampung sendiri.

Berbeda dengan kebanyakan orang terdidik lainnya, Jamaluddin menjadi contoh pembeda diantara jamaknya fenomena masyarakat berpendidikan kita. Ia bersama Rumah Korannya melakukan pemberdayaan masyarakat tani di kampung halamannya yang jauh dari hingar bingar kota besar. Lulus dari pendidikan magister di sebuah kampus di Kota Makassar, Jamaluddin meninggalkan profesi dosennya. Memilih memakai sepatu boot berlumpur lengkap dengan celana pendek, kaos oblong dan cangkul, ia memilih turun ke ladang. Ia tinggalkan diktat dan ruangan ber-AC. Ia kembali ke kampungnya dan menjadi sarjana turun ladang.

Bersama para pemuda di desanya, ia menggerakkan anak anak petani untuk melek literasi di sebuah kandang bebek sederhana beralas tanah bernama Rumah Koran. Sebuah rumah dari petani, untuk petani, dan oleh petani.

Penasaran dengan sosok Jamaluddin dan segala sepak terjangnya, saya bersama Nisa anak saya meluncur menerobos guyuran hujan deras ke desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Saya beruntung karena Pak Sahar, driver Panther yang biasa naik ke desa Kanreapia waktu itu bersedia mengantar kami naik ke sana. Tidak setiap hari Pak Sahar menarik Panthernya menuju desa Kanreapia. Jika penumpang dirasa banyak ia akan ambil jemputan dari Makassar ke Kanreapia. Jika hanya satu hingga dua orang yang hendak ke sana, tentu ia akan menolaknya.

Menaiki mobil Panthernya, kami melaju ringan dari kota Makassar sekitar 2 jam 46 menit. Berjarak sekitar 79,5 KM dari Makassar, kami pergi melewati hutan pinus yang hijau memanjakan mata. Perlahan kami naik ke desa Kanreapia di ketinggian sekitar 1600 meter di atas permukaan laut. Kami bersemangat pergi ke sebuah desa yang dicita-citakan menjadi kampung literasi oleh seorang Jamaluddin.

Mobil kami berhenti begitu melihat papan nama yang menyerupai poster besar berdiri kokoh di kanan jalan. Rumah Koran begitu bunyi tulisannya, disertai gambar sosok Jamaluddin yang hanya saya kenal lewat tulisan di koran dan acara penghargaan yang ada di instagram Satu Indonesia.

Ia segera keluar begitu kami sampai di halaman rumahnya. Daeng Abu panggilan akrabnya, langsung mempersilahkan kami masuk ke Rumah Koran tepat di belakang rumah utamanya. Jalannya cukup sempit untuk di lewati 3 orang saja secara berjejer, mirip seperti jalan pematang sawah. Saya melihat Rumah Koran yang benar benar seperti kandang. Tak ada yang istimewa, andai saja ditaruh ayam atau bebek di sana, sah sudah disebut kandang.

Ruangan berukuran 6 X 10 meter persegi itu, dibangun dengan kayu melintang dan papan yang disusun menyerupai rumah. Beberapa sisi kayunya bahkan terlihat reyot, dan di sekeliling tembok serta tiang penyangganya ditempelkan berbagai macam koran sebagai wallpapernya. Sungguh jauh dari kesan perpustakaan atau taman baca masyarakat pada umumnya.

“Kalau saya tempel koran begini mbak, orang yang masuk ke sini mau tidak mau baca. Ga perlu ambil buku di rak, begitu masuk udah langsung disuguhi bacaan dari koran yang ditempelkan.” Terang Jamal ketika saya tanya kenapa koran dijadikan wallpaper disana.

“Pendekatannya harus merakyat mbak. Kalau berurusan dengan kaum tani, pola pikir dan bahasa kita juga harus menyesuaikan dengan mereka. Saya tidak butuh tempat mewah, justru tempat seperti ini membuat para petani tidak segan untuk masuk ke rumah koran tanpa alas kaki dan belajar bersama saya. Jika rumah koran ini dari lantai keramik, kinclong dan wangi seperti kebanyakan perpustakaan yang didatangi oleh para kaum terdidik, niscaya para petani dan anak anaknya tak akan mau masuk ke sini.” Kata Jamal melanjutkan.

Kesederhanaan dan kerendahhatian daeng Abu sangat jelas terpancar saat kami mengobrol lebih kurang 3 jam di sana. Rumah koran sendiri mengalami perjalanan dari mulai kampanye literasi di 2011 hingga bermetamorfosis menjadi Rumah Koran pada tahun 2016 lalu.

Sumber: dokumen pribadi

Kilas balik kondisi Kanreapia

Di tingkat Kecamatan, Kanreapia merupakan daerah paling tertinggal dari segi pendidikan tetapi paling tinggi tingkat pendapatannya. Karena mudahnya mendapatkan uang, petani lebih cenderung menikahkan anaknya ketimbang menyekolahkan hingga sarjana. Tak heran jika pernikahan dini, kawin lari, perjudian dan miras menjadi potret buram kampung Kanreapia.

Hampir 90 % penduduk Kanreapia menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Mereka bertanam jagung, kentang, wortel, kol, padi dan lain sebagainya. Dalam sekali panen 5-10 juta rupiah bisa mereka kantongi dengan mudah tanpa sekolah. Jika tanpa sekolah mereka bisa mendapatkan uang, lalu untuk apa sekolah. Potret buram inilah yang hendak diubah oleh Jamaluddin lewat Rumah Koran.

Kanreapia yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan mengalami putus sekolah menjadi keprihatinan tersendiri bagi Daeng Abu yang menjadi satu satunya lulusan magister di kampungnya tersebut. Dengan jumlah buta aksara yang mencapai 252 orang, tidak tamat SD mencapai 1572 orang, serta angka pernikahan dini yang terus memuncak, membuat Jamaluddin tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu bagi desa tempat kelahirannya tersebut.

Sumber : dokumentasi pribadi yang diolah dari data RPJM Desa Kanreapia

Berangkat dari kenyataan di lapangan, Daeng Abu membuat tiga bidikan program dalam Rumah Korannya.

Pertama,untuk anak petani yang menitikberatkan pada program literasi. Program ini menyasar anak-anak usia TK hingga SD dengan beragam turunan program seperti mengaji di hari Senin-Sabtu pada pukul 16.00 sore hingga maghrib. Selain itu,ada sekolah alam yang dilaksanakan setiap hari Minggu. Sesuai namanya, lokasi pembelajaran tidak lagi di Rumah Koran. Sungai, ladang hingga di gunung menjadi tempat belajar. Kelas ini bertujuan untuk membuat anak tani lebih paham dan sayang kepada alam.

Sumber : Instagram Rumah Koran

Tak hanya berhenti disitu, masih ada juga Kelas Inpirasi. Dikelas ini Rumah Koran membuka kesempatan kepada para profesional dimanapun berada, terutama di Makassar untuk memberikan kelas pengenalan profesi kepada para anak tani. Hal ini bertujuan agar mereka mempunyai wawasan terkait ragam profesi selain bertani.

Kedua, program untuk para pemuda tani. Inilah sektor pemantik nyala semangat di rumah koran. Para pemuda tani tidak hanya belajar tapi juga diberdayakan oleh Rumah Koran untuk menghidupkan Rumah Koran dengan beragam aktifitas pemberdayaan. Tanpa jadwal yang ketat layaknya program untuk anak tani, para pemuda tani bebas datang kapan saja untuk belajar dan berdiskusi. Posisi mereka sama atau sejajar dengan yang lainnya terutama dengan Jamaluddin Daeng Abu. Mereka bukan disebut anak didik, tapi teman berbagi.

Ketiga, program untuk petani tua. Bekerjasama dengan Dinas Pertaniaan setempat, Rumah Koran mengadakan penyuluhan tentang cara bertani organik yang baik dan hal hal terkait dunia pertanian lainnya. Tak hanya itu, para petani tua juga belajar huruf hijaiyah dan juga membaca tulisan latin.

Saat ini peserta yang mengikuti kegiatan rumah koran berskisar antara 25-40 orang per kegiatan. Diajar oleh 4 orang pengajar kelas mengaji dan 9 orang pengajar kelas hari minggu, yang mengajar dengan ikhlas tanpa gaji serupiahpun.

Dana operasional rumah koran didapat dari hasil menjual pupuk organik dan kerajinan limbah plastik oleh ibu-ibu tani di toko tani rumah koran. Sisanya? tentu patungan dari Jamaluddin dan relawan serta donatur yang bersedia berbagi.

Toko Tani Rumah Koran. Sumber: Dokumen Pribadi.

Hingga kini, kegiatan rumah koran telah mencapai 75 persen dari jumlah penduduk di Kanreapia. Dari 2.313 perempuan dan 2.420 warga laki laki di Kanreapia, anak anaknya mulai tertarik untuk melanjutkan pendidikannya dan mengalihkan pertanian mereka dari kimia ke organik.

“Rumah koran pada akhirnya mbak ingin mewujudkan dua hal, yakni menjadikan Kanreapia sebagai kampung literasi dan kampung organik. Rumah Koran ingin menjadi pusat gerakan cerdas anak petani mbak” terang Daeng Abu.

Cerdas di sini tidak hanya cerdas literasi dalam bingkai pendidikan formal, tapi juga cerdas menjadi petani. Gerakan cerdas anak petani ini diharapkan mampu membuat masadepan anak anak petani lebih cerah. Mampu mengalihkan sistem pertanian kimia yang mereka tekuni selama ini ke arah pertanian organik.

Gerakan cerdas anak petani melalui Rumah Koran diharapkan mampu melahirkan para petani cerdas, petani organik yang tidak meracuni orang lain dan dirinya sendiri dengan produk pertanian kimianya. Petani yang juga melek literasi dan berpendidikan tinggi. Petani bertoga yang berjiwa Kanreapia.

Desa Kanreapia di mata Daeng Abu dalam 10 tahun kedapan, adalah desa yang menjadi ikon pertanian dan peternakan organik, hasil pertanian dan peternakaanya mampu menjadi komoditas penggenjot ekonomi desa, anak anaknya tidak menikah dini, serta menjadi kampung literasi yang anak anak petaninya mampu melanjutkan kuliah di Makassar, yang kemudian mau kembali ke desanya untuk membangun Kanreapia.

Sumber: Instagram Rumah Koran

Terpanggil Pulang

Rasanya tidak begitu muluk ketika Jamaluddin Daeng Abu membayangkan Kanreapia dalam jangka 10 tahun kedepan menjadi kampung organik dan literasi. Nyatanya, ia menjadi salah satu contoh bibit unggul di desanya yang terpanggil pulang memeluk ladang. Terlahir dari keluarga petani, Jamaluddin begitu beruntung karena direstui oleh ayah dan ibunya untuk melanjutkan pendidikan sarjananya di Universitas Bosowa makassar. Meski pernah berhenti kuliah selama setahun, nyatanya ia berhasil lulus dengan menyandang gelar sarjana pendidikan. Tak puas dengan ilmu yang diperolehnya, ia kembali melanjutkan jenjang S2-nya dengan mengambil jurusan manajemen. Jamaluddin berhasil menyelesaikan kuliah sarjana dan pascasarjananya dengan berjualan kayu bakar dan sayuran serta buah buahan dari desanya ke Makassar.

Setamat pendidikan magisternya, ia mengabdi sebagai dosen di sebuah universitas swasta di Makassar. Namun, ia kemudian berfikir bahwa di kampus, sudah banyak sekali orang cerdas. Berkebalikan dengan di kampungnya, fenomena pernikahan dini yang merebak di dataran tinggi kabupaten Gowa tersebut, serta mindset masyarakat yang memandang pendidikan bukan hal yang penting dan mendasar, membuat ia tergerak untuk kembali ke Kanrepia, kampung di mana ia dilahirkan dan dibesarkan dari hasil pertanian disana.

Pada tahun 2014, Jamaluddin memutuskan untuk kembali ke Kanreapia. Banyak yang menjulukinya sebagai sarjana pulang kampung. Toh, gelar itu nyatanya tidak membuatnya gentar untuk turun ke ladang menjadi petani.

Tujuannya kembali ke kampung karena ia ingin mengabdikan diri untuk kampung yang telah membesarkannya. Mengembangkan potensi daerah dan meningkatkan taraf pendidikan di Kanreapia. Membangun Indonesia dari desa adalah tujuannya. Orang tua Jamalpun sangat bangga dengan pencapaian Jamaluddin. Gelar master yang terselip di belakang nama Jamaluddin tak serta merta membuat malu diri dan keluarganya untuk fokus bertani dan mengembangkan pertanian serta literasi di Kanreapia.

Nampaknya, tak sia sia memang pendidikan yang ia tempuh di kota. Sekembalinya ke Kanreapia, ia membangun Rumah Koran. Persis dibelakang rumahnya, di bekas kandang bebeknya. Sekarang, saat saya ke sana tidak ada lagi bebek berkeliaran, hanya beberapa anak kecil dan pemuda yang memenuhi rumah koran. Entah itu mereka membaca atau berdiskusi ringan sambil membaca-baca koran di hadapan mereka.

Sumber: Instagram Rumah Koran

Kini, rumah koran telah berevolusi dari kandang bebek menjadi kandang para petani dan anak-anaknya yang ingin belajar. Hotel Ibis Makassar, mahasiswa dari Universitas Hasanuddin, bahkan sering melakukan kunjungan dan penelitian di Kanreapia. Sebuah desa di pucuk kabupaten Gowa yang baru saja saya dengar namanya.

Pihak hotel maupun civitas akademika Universitas Hasanuddin, melakukan penanaman dengan bibit organik sumbangan mereka, pengembangan pertanian dan penyuluhan. Bahkan, pihak hotel mengharapkan, jika pertanian organik di Kanreapia sukses, para petani Kanreapia diharapkan mampu menyetok kebutuhan sayur organik bagi dapur hotel. Dinas pertanian setempat pun tak mau kalah, mereka bekerjasama dengan Rumah Koran dalam mengembangkan pertanian dan literasi di wilayahnya.

Selain itu, Rumah Koran bersama relawannya juga menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat untuk memberikan layanan mengikuti ujian nasional agar para anak petani bisa melanjutkan jenjang pendidikannya lebih tinggi. Kegiatan pertanian, pengembangan kelompok tani, pendirian toko tani, menghasilkan produk tani organik, kegiatan literasi dan kewirausahaan telah dikembangkan oleh Rumah Koran. Rumah sederhana bekas kandang.

Hadirnya rumah koran memberi angin baru bagi penduduk Kanreapia. Sejumlah 50 persen anak petani kini telah bisa mengaji, 10 pemuda di Kanreapia diikutkan ujian nasional melewati rumah koran, serta 80 % petani Kanreapia telah berhijrah dari sistem pertanian kimia ke organik. Program selanjutnya adalah mendirikan Rumah Koran di setiap dusun. Tercatat ada 7 dusun di Kanreapia yang akan mengadopsi Rumah Koran. Langkah awal untuk program ini adalah melakukan pendataan disetiap dusun. Program ini akan dimulai pada tahun 2018.

Jamaluddin dan sebuah apresiasi

Tak berlebihan rasanya, jika kemudian Jamaluddin menyabet penghargaan Satu Indonesia Award 2017. Kiprahnya dalam dunia pendidikan kaum tani tak perlu diragukan lagi. Saya menjadi saksinya.

Rumah Koran pada akhirnya mampu mewujudkan literasi bagi para petani dan menghapus buta aksara di desanya. Tak terbayang, jika para petani ini terus berkutat dengan pertanian saja tanpa tersentuh literasi. Saya sungguh melihat bagaimana geliat perkembangan Kanreapia.

Sumber: Instagram Rumah Koran

Dari penuturan warga, pernikahan dini mulai sedikit berkurang meskipun masih bisa dihitung jari. Keinginan melanjutkan sekolah nampak bergelora di mata peserta didik Rumah Koran. Para petani tuapun ikut bersemangat untuk menghijrahkan pertanian kimia mereka ke organik.

Pada akhirnya saya melihat Astra dari sudut pandang yang berbeda. Tak hanya menghasilkan mesin mesin moda transportasi kita. ASTRA memberi angin segar bagi tumbuhnya generasi peduli literasi. Pilar Astra untuk Indonesia cerdas benar benar mewujud dalam pilihannya memberikan penghargaan dan apresisasi yang tinggi bagi Jamaluddin dengan Rumah Korannya.

Tokoh penggerak pemberdayaan masyarakat seperti Jamaluddin tentu tak pernah mengharapkan apresiasi, pun penghargaan. Ia hanya bergerak untuk warganya tanpa embel embel balas jasa. Astra tentu melihat ketulusannya, sebagaimana saya melihat dari dirinya selama wawancara. Jamaluddin dianggap mampu menjadi tokoh inspiratif bagi orang orang di sekitarnya. Gelora semangat pemberdayaannya patut untuk diapresiasi dan disebarkan guna menginspirasi kaum muda untuk mau turun tangan dan kembali membangun desanya.

Saya lalu teringat kembali dengan syair pujangga bangsa, WS Rendra,

Seonggok jagung ia di kamar
Tidak menyangkut pada akal
Tidak akan menolongnya
Seonggok jagung dikamar
Tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku
Dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
Dan hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tatapi kurang latihan bebas berkarya
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalanya?
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.

Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi”

Rumah koran terus bekerja tak kenal lelah, dengan atau tanpa donasi. Ia terus berputar menyalurkan energi positif bagi warganya. Hingga syair WS rendra di atas tak lagi relevan bagi Jamaluddin dengan Rumah Korannya. Jamaluddin bukanlah seonggok jagung dari Kanreapia.

Sumber: dokumen pribadi

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Anugerah Pewarta Astra 2017: Inspirasi 60 Tahun Astra untuk kategori umum.

bundanisa

Penulis bisa dihubungi melalui email: atikmuttaqin17@gmail.com

You may also like...

6 Responses

  1. Naadhirah says:

    Jamaluddin menjadi inspirator bagi seluruh pemuda untuk “pulang kampung” membangun daerahnya di tengah eksistensi dunia perkotaan

    • bundanisa says:

      Benar sekali, daeng jamal jadi contoh nyata utk berkarya dari desa dan membangun desanya melalui dunia literasi. Mudah2an mampu menginspirasi.

  2. diah proboningtias says:

    Kagum sangat! Pendekatan yg sangat hebat dan orang desa butuh contoh nyata dengan disertai bimbingan terus menerus. Penulis sudah sangat baik menceritakan kepada pembaca, seakan kami diajak langsung kesana dan terinspirasi.

    Great Job

  3. Erra Kyra says:

    yaAllah…. sedih dan terharu.. bisa minta info lebih jika mau donasi ke rumah koran?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!