Candi Umbul: Pesona Pemandian Air Panas Ala Kerajaan

Bunda pernah mendengar tempat pemandian air panas candi umbul? Saya baru dengar beberapa waktu lalu dari sebuah akun wisata di Jawa Tengah. Letaknya di Grabag Magelang Jawa Tengah.

Jika kita pergi dari Yogyakarta, perjalanan kita arahkan menuju Magelang. Selepas kota Magelang, kita akan menemukan perempatan Secang. Dari sana masih lurus ke arah Semarang, hingga menemukan pertigaan Desa Krincing (sebelah utara Secang). Dari situ, kita bisa belok kanan ke arah Grabag. Kemudian mengikuti papan penunjuk arah menuju Candi Umbul.

Saya sendiri kesana melewati jalan tikus yang saya sendiri tidak hafal. Suami saya yang memang asli dari Magelang tentu lebih paham jalanan singkat menuju lokasi pemandian Candi Umbul tanpa melewati traffic light.

Pemandian yang terletak di desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini merupakan situs purbakala berupa candi yang dibangun di area sumber air panas. Jika kita kesana pukul 6 pagi kita akan bisa menikmati dan melihat dengan jelas asap yang keluar dari kolam ini.

Asal muasal nama Candi Umbul ini dari kata bahasa Jawa yaitu “umbul” yang bermakna menyembul. Hal ini dikarenakan sumber mata air yang keluar dari dasar kolam menyembul seperti gelembung-gelembung atau masyarakat Jawa menyebutnya dengan “mumbul”.

Pemandian air hangat ini mempunyai dua kolam bunda. Kolam di atas yang lebih besar, dimana kolam air panasnya mengandung sulfur dan dipercaya oleh masyarakat setempat untuk mengobati berbagai penyakit utamanya penyakit kulit. Suhu airnya dapat menjadi terapi tulang dan pelancaran peredaran darah.

Uniknya, bau sulfurnya tidak tercium sama sekali, seperti kebanyakan pemandian air panas bersulfur lainnya. Kolam kedua berukuran lebih kecil dan lebih rendah di bawah kolam pertama dan berisi air dingin. Secara keseluruhan dinding kolam-kolam tersebut dibuat dari lapisan batu andesit.

Zaman dahulu kala bunda, kolam pemandian ini digunakan sebagai pemandian para putra dan putri bangsawan kerajaan. Kata warga sekitar yang sempat saya wawancarai, sebelum dikelola oleh dinas pariwisata Magelang, kolam ini sangat angker. Kini, kesan angker itu sudah sirna dilahap banyaknya pengunjung yang datang ke tempat ini. Kesan bersih, antik, kuno, megah dan menarik justru yang muncul saat saya ke pemandian ini.

Menurut sejarah, pemandian air panas Candi Umbul ini dibangun sejak jaman kerajaan Mataram Kuno. Sejumlah situs bebatuan candi berjejer di tepian kolam menggambarkan berbagai relief tumbuhan, binatang, dan stupa bagian puncak candi. Lokasi ini masih menampakkan kemegahan kerajaan. Keberadaan pondasi yang berada di sudut dasar kolam berperan sebagai tiang penyangga maupun tiang pelindung. Sedangkan batuan lain berbentuk lingga datar yang merupakan alas duduk untuk bersemedi. Dari relief dan beberapa petilasan bentuk lingga dan yoni di beberapa titik, membuktikan bahwa Candi Umbul merupakan candi bercorak Hindu.

Jika kita menilik sejarah perkembangan Kerajaan Mataram Kuno, kemungkinan besar candi ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Tetapi ada juga yang beranggapan bahwa Candi Umbul adalah peninggalan Dinasti Syailendra.

Di lokasi, memang tidak banyak ciri bangunan candi yang tersisa. Namun demikian di dalam kolam terdapat beberapa batu umpak berbentuk lingga yang datar di permukaan bagian atasnya. Di samping sebagai patirtan (tempat mandi), sangat dimungkinkan keberadaan landasan batu umpak berbentuk lingga tersebut dulunya dipakai sebagai alas tempat duduk untuk bertapa kungkum atau bertapa rendam para ksatria di masa lalu.

Letaknya yang dikelilingi oleh beberapa gunung dan area hijau di sekitarnya, menjadikan daerah pemandian ini sangat sejuk dan nyaman. Kita akan dibuat betah berlama-lama berendam di air panas di tengah pemandangan hijau dan suasana udara yang sejuk tersebut.

Harga tiket masuknyanpun sangat terjangkau. Hanya dengan 6 ribu rupiah, kita sudah bisa menikmati pemandian air panas yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang ini. Bagi yang lapar setelah berendam bisa menikmati sajian di kantin pemandian atau membeli jajanan diluar area candi yang tergolong super murah.

Nisa yang saya ajak kesana saja, keasyikan bermain air. Saya sendiri tidak diijinkan nyebur oleh suami, karena kondisi yang ramai dan bercampur antara laki laki dan perempuan dalam satu kolam. Sehingga saya cukup menemani Nisa bermain air sambil menikmati kesejukan udara dan suasananya serta tentu menikmati kulinernya. Bakwan Malang berkuah segar seharga 5 ribu rupiah dalam satu porsinya cukup membuat saya kenyang disana.

Balik lagi? Tentu iya di lain kesempatan Insyaalloh. Karena menurut warga sekitar masih ada sumber air panas lagi di sekitar candi umbul tepatnya di area persawahan warga yang patut untuk dieksplore kembali.

bundanisa

Penulis bisa dihubungi melalui email: atikmuttaqin17@gmail.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!