Kelas Inspirasi Gowa 4: Sebuah Usaha untuk Menebus Dosa

Dear bunda,

Kali ini saya mau berbagi cerita tentang Kelas Inspirasi Gowa yang tahun ini merupakan tahun keempat penyelenggaraannya di kabupaten Gowa. Mengambil lokasi di 10 Sekolah Dasar yang tersebar di Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa, Kelas Inspirasi atau KI Gowa 4 ini sukses menyedot 66 orang relawan pengajar dan 23 orang relawan dokumentasi.

Sebelum saya cerita lebih lanjut tentang bagaimana saya bergabung, saya mau memberikan overview dulu mengenai kegiatan ini.

Tentang Kelas Inspirasi


Kelas Inspirasi sendiri merupakan turunan dari gerakan Indonesia Mengajar. Kelas ini mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional dari berbagai latar belakang ditantang untuk cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD, yaitu pada Hari Inspirasi.

Kelas Inspirasi Gowa dimulai pada tahun 2014 dan alhamdulillah rutin diadakan setiap satu tahun sekali di kabupaten Gowa.

KI Gowa 4 ini terdiri dari 10 tim yang dibagi ke 10 sekolah dasar negeri di kecamatan Barombong Gowa. Reportase lengkapnya ada di Citizen journalism Tribun Timur

Tujuan dari kelas ini adalah para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar dan berusaha mewujudkannya. Bagi para relawan pengajar, Kelas Inspirasi dapat memberi pengalaman mengajar di depan kelas sebagai bentuk kontribusi nyata dan aktif terhadap perbaikan masa depan bangsa.

Kelas inspirasi ini membuka gerbang keterlibatan para profesional dengan realita pendidikan dasar di lingkungannya. Interaksi antara para profesional dengan siswa dan guru SD diharapkan dapat memberi kontribusi nyata bagi pendidikan di Indonesia. Dengan tagline “Sehari mengajar seumur hidup menginspirasi”, diharapkan kelas ini mampu memberi inspirasi tidak hanya bagi siswa dan guru, tapi juga para relawan.

Pengalaman pertama menjadi volunteer dengan menggendong anak.


Yap, dulu waktu kuliah dan kerja, saya biasa ikut acara yang berbasis volunteerism sendirian, ya iyalah ya bun, saya masih single dulu.

Dari pagi sampai malam jadi panitia dan ngurus ini itu, sampai rumah langsung KO. Kini, alhamdulillah saya sudah berkeluarga dan punya si kecil Nisa.

Saya yang notabene perantau dari Jogja dan hanya tinggal bertiga dengan suami dan anak di rumah kontrakan di Minasa Upa Makassar, tentu tidak mungkin menitipkan anak ke saudara saat berkegiatan. Disini kami tidak punya sanak saudara yang sedarah (kalau tetangga yang sudah saya anggap seperti saudara memang ada, kami biasa panggil beliau nenek, dan beliau juga sudah menganggap Nisa sebagai cucunya, tapi tidak mungkin saya menitipkan Nisa ke nenek saat saya berkegiatan tersebut).

Naaah, di KI Gowa 4 ini saya ikut semua rangkaian acara, dari mulai briefing, survei hingga hari inspirasi yang kesemuanya mengharuskan saya membawa Nisa.

Hal yang berat saya rasakan adalah di saat hari inspirasi. Saya harus sudah sampai di lokasi mengajar sebelum jam 7 pagi dan menjadi petugas upacara sebelum kelas inspirasi dimulai.

Akhirnya, saya bangun shubuh dan menyiapkan segala peralatan tempur, dari mulai bekal, popok, hingga baju ganti buat Nisa. Sampai pukul 6 pagi su kecil masih pulas tidurnya. Tanpa pikir panjang, saya saya angkat dia dan saya gantikan bajunya.

Sengaja saya tidak mandikan Nisa karena takut tidak cukup waktunya. Hanya saya lap lap pake tisue basah saja dan melumurinya dengan minyak telon. Pukul 6.15 saya dan Nisa sudah siap sedia, kami masih menunggu mobil jemputan dari Rappocini. Alhamdulillah pukul 6.25 mobil datang dan kami segera meluncur ke lokasi mengajar di SDN Kalukuang Barombong Gowa.

Sampai dilokasi, anak anak dan guru sudah berbaris rapi. Saya segera ke barisan petugas upacara dan memegang naskah UUD 45. Nisa masih anteng saat upacara dimulai. Hingga……saat pembacaan pancasila oleh kepala sekolah, Nisa mulai menampakkan gelagat bosan digendongan. Saya mulai ketar ketir.

Saya turunkan Nisa, dan dia mulai merengek, padahal pembacaan UUD sudah hampir gilirannya. Saya gendong Nisa lagi dan membaca shalawat sebanyak banyaknya sambil berdoa mudah mudahan Nisa anteng saat saya baca naskah UUD.

Alhamdulillah Nisa bisa diajak kompromi, dia diam digendongan saat saya membaca undang undang. Sesekali dia pegang naskah dan hendak memegang microfon. Lancar jaya.

Selesei baca UUD, saya langsung ngacir ke kelas kosong memberi nisa asi dan roti. Beres!.

Apakah sudah selesei tantangannya? Tentu belum bunda. Drama kedua dimulai ketika saya mulai masuk ke kelas yang ketiga. Saat mengajar di kelas pertama dan kedua, Nisa asyik menulis di papan tulis dan berlarian di depan kelas. Naaah, di kelas ketiga, dia mulai merengek dan bosan.

Saya lalu mengambil mainannya dan mengajak salah satu siswa perempuan untuk bermain bersama Nisa didepan kelas sembari saya menerangkan tengang profesi blogger (bukan full profesi sebenernya ya bun, tapi 75 persen hobi, 25 persen profesiπŸ˜†).

Karena konsentrasi saya sudah buyar akibat rengekan Nisa, akhirnya saya ambil jalan pintas dengan menunjukkan blog saya ke anak anak sambil menerangkan singkat. Kemudian saya akhiri dengan tepuk semangat dan tepuk cita cita. Selesei. Lega…..

Lalu, saya bawa Nisa ke ruang guru, kembali memberi kue sarang semut khas makassar, jalangkote, roti tawar dan beberapa teguk air mineral dan mengakhiri dengan ASI. Nisa perlahan terlelap dan hujan mulai mengguyur Barombong.

Huuuf leganya saya. Belum sampai 5 menit kelegaan saya, ternyata banyak lalat di perpustakaan tempat saya menidurkan Nisa. Saya langsung ambil balon besar dan mengipasi Nisa dengan balon tersebut agar ia kembali terlelap dalam tidur manisnya.

Singkat cerita ya bunda, kelas inspirasi selesei pukul 11.30 wita, dilanjutkan dengan shalat dhuhur dan makan bersama guru di sop sodara dan ikan bakar di daerah Barombong sana.

Selesei makan siang kami meluncur ke perpustakaan di Gowa dan melakukan refleksi disana. Acara selesei pukul 4 sore dan pukul 4.30 kami sampai rumah, mandi, menyiapkan makan anak dan suami lalu istirahat.

Capek ga sih kalau ditanya? Tentu capek bunda, tapi justru saya merasa super duper senang sekali. Saya sebagai emak emak jaman now bisa turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Akhirnya dosa saya tertebus sudah. Dosa apa? Yup dulu saat saya bekerja di pekanbaru dan sekantor sama Lianda Marta saya ikut kelas inspirasi Pekanbaru yang pertama di sana. Bersama dengan beberapa temen dari ITB yang bekerja di perusahaan tambang minyak di Riau,penyiar radio, arsitek hingga jurnalis koran harian di Riau, kami melakukan promo radio dan promo di beberapa tempat keramaian menjelang hari inspirasi. Tetapi pada akhirnya saya batal datang di hari inspirasi karena saya tidak bisa cuti cantik di hari itu😭😭😭. Rasanya saya berdosa sekali saat itu.

Alhamdulillah dosa dan penyesalan itu terbayar disini. Meskipun sudah tidak berstatus sebagai tenaga public relation, saya bersyukur bisa berbagi kepada anak anak sekolah dasar tentang profesi blogger. Sebenarnya saya tidak fokus pada profesi blogger itu sendiri.

Saya lebih fokus untuk menyampaikan tentang tema literasi. Saya mempunyai hidden agenda yang positif yaitu mengenalkan anak anak dengan dunia literasi atau biasa disebut dengan melek literasi. Bahwa membaca dan menulis adalah suatu dasar bagi pencapaian cita cita seseorang. Tanpa membaca dan menulis tidak akan ada peradaban di dunia ini.

Sebagaimana firman Tuhan yang pertama: IQRO’, maka bacalah, karena membaca membuka pintu pengetahuan. Setelah bisa membaca dan memahami apa yang dibaca, kita bisa mulai menulis. Tidak mungkin kita bisa menulis jika kita tidak rajin membaca. Membaca ibarat sebuah peluru bagi amunisi menulis kita.

Dunia literasi adalah dunia baca tulis, karena itu saya membawa beberapa buku dongeng untuk anak anak agar mereka terpantik minatnya untuk membaca. Insyaalloh kelas inspirasi di SDN Kalukuang tidak akan berhenti di hari inspirasi saja. Kami tim 10 atau tim Serindit yang terdiri dari 7 relawan pengajar dan 4 relawan dokumentasi serta fasilitator akan melanjutkan program kami disana, seperti pembinaan karakter, program pojok literasi dengan dongengnya, english fun, dan beragam program lainnya. Mohon doanya ya bunda, kami bisa istiqomah. Karena memulai langkah kebaikan jauh lebih ringan daripada istiqomah bergerak dalam kebaikan.

Demikian bunda sekelumit cerita dan catatan saya terkait kelas inspirasi Gowa sebagai sebuah usaha saya menebus dosa yang tertinggal di Pekanbaru. Mudah-mudahan bermanfaat dan menginspirasi tentunya, aamiin.

Bunda Nisa

bundanisa

Penulis bisa dihubungi melalui email: atikmuttaqin17@gmail.com

4 Responses

  1. Dede Farsjad says:

    😍😍 semoga misi rahasia Bunda berhasil yaπŸ˜‰

    • bundanisa says:

      Butuh kerjasama banyak pihak ni buat mission accomplished, termasuk dari dedeπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ’ͺ🏻πŸ’ͺ🏻πŸ’ͺ🏻

  2. yeahhhh, bunda ikut serta mencerdaskan anak bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!