Lahiran di Rantau atau di Kampung Halaman?

Bunda lebih milih mana lahiran di kampoong sendiri atau di tanah rantau? Tentu jawabannya bisa sangat subjektif sekali tergantung situasi dan kondisi bunda. Untuk bunda-bunda yang berjiwa berani dan mandiri, tentu tak masalah lahiran di tanah rantau tanpa didampingi sanak saudara dan family, hanya suami yang setia menemani. Berbeda halnya dengan saya yang manja dan ga bisa kalau lahiran tanpa karib kerabat yang membantu.

Saya, suami, dan anak anak tinggal di Makassar. Sebagai perantau tentu kami dituntut mandiri, apalagi kami tak punya sanak family di kota daeng ini. Saat mengetahui kalau saya hamil, suami sudah langsung titah perintah untuk menyiapkan proses kelahiran di tanah kelahiran saya yaitu Jogja. Pertimbangannya sederhana, karena suami sering dinas luar kota dengan durasi yang panjang (2-4 minggu lamanya), maka suami langsung menyuruh saya untuk menghubungi keluarga di Jogja dan mudik untuk lahiran di bulan keenam kehamilan. Suami takut juga kalau semakin tua usia kehamilan, pihak airlines akan menolak memberangkatkan kami.

Baca juga Bolehkah hamil (rada) tua naik pesawat?

Keluarga Jogja pun siap memfasilitasi kelahiran anak kedua kami, persis seperti kelahiran anak pertama kami. Meski begitu, dalam hati saya sudah membatin, “pasti bakalan ada drama ni di rumah” dan benar saja, drama telah dimulai sejak saya pulang ke rumah.

Berdamai dengan drama

Ibu saya tipikal ibu yang masih menganut ajaran tradisional dalam pengasuhan anak. Berbeda dengan saya tentunya. Drama drama yang terjadi adalah seputar pamali atau larangan tentang makanan atau kebiasaan yang saya lakukan sebagai wanita yang sedang hamil, seperti dilarang mandi saat sudah senja dan lain sebagainya.
Drama ini makin menjadi ketika anak kami telah lahir, berbagai larangan dan anjuran menghiasi hari hari sebagai ibu baru beranak dua. Dari mulai drama menyusui, drama pakai setagen atau korset, drama minum jamu, drama berbagai pantangan hingga drama selapanan, dimana bayi tidak boleh dibawa jalan jalan krluar rumah sebelum usia selapa atau 35 hari (kecuali keluar utk imunisasi atau kontrol dokter). Praktis sampai tulisan ini dibuat dan dipublish, mbah uti belum mengijinkan saya jalan jalan ke mol atau sekedar jalan jalan sore bersama adek bayi. Padahal saya udah ga sabar pengen ngajak adek bayi jalan jalan ke mol.

Meskipun begitu, ada sisi positif saya lahiran di jogja yaitu banyak saudara yang membantu selama proses kehamilan hingga kelahiran, saya bisa jalan jalan bersama si sulung karena ada yang membantu menjaga adek bayi, saya tidak perlu masak, dan kemudahan- kemudahan lainnya.

Sisi positif dan negatif lahiran di tanah rantau dan kampung halaman

Di sini saya akan coba buat sisi positif dan negatif lahiran di kampung halaman, siapa tau ada bunda yang masib bingung mau lahiran dimana.

Sisi positif lahiran di kampung halaman:
1. Dekat dengan kerabat
2. Banyak bala bantuan
3. Lebih bisa me-time karena banyak yang membantu mengurus anak
4. Bisa lebih produktif, misalnya produktif untuk menyalurkan hobi
5. Resiko baby blues kecil karena banyak supporting system
6. Berbagai kerepotan pasca kelahiran bisa diatasi dengan mudah
7. Bisa meminimalkan kelelahan pasca melahirkan karena ga boleh nyuci, dipijit dll

Sisi negatif lahiran di kampung halaman:
1. Banyak drama
2. Banyak pantangan dan larangan
3. Kurang bebas menerapkan pola pengasuhan ala milenial parent
4. Sering terjadi salah paham atau gesekan dengan orang tua
5. Lebih manja
6. Lebih boros karena harus beli tiket mudik

Sisi positif lahiran di tanah rantau:

1. Bebas intervensi dari keluarga besar
2. Lebih mandiri
3. Bebas menerapkan pola asuh kekinian
4. Lebih minim drama dengan keluarga besar
5.Lebih hemat karena tidak perlu beli tiket mudik

Sisi negatif lahiran ditanah rantau:

1. Lebih capek karena minim bantuan
2. Jarang bisa me-time karena banyak kerjaan domestik yang dikerjakan sendiri tanpa bantuan (khusus utk yg tidak punya pembantu atau nanny
3. Lebih repot
4. Resiko baby blues lebih banyak

Itu tadi beberapa hal positif dan negatif lahiran di kampung halaman atau di tanah rantau versi bundanisa, yuk yang punya tambahan bisa ditulis di kolom komentar moms.

bundanisa

Penulis bisa dihubungi melalui email: atikmuttaqin17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!