Membeli Surga

Hai ibu,

Saya tergelitik untuk menulis sebuah artikel tentang ini gegara saya sedang sholat dan tiba tiba air yang saya rebus mendidih. Spontan, sholat saya jadi berubah tempo, dari yang lambat penuh penghayatan hingga kecepatan yang meningkat perlahan menyamakan irama meringing teko yang menampung air mendidih.

Sehabis salam segera saya matikan kompor dan kembali ke ruang sholat. Saat berdzikir pasca sholat, saya berfikir dan merenung, bagaimana mungkin sholat saya diterima?jikalau hanya karena air mendidih, saya jadi tidak khusyuk?

Bagaimana saya mau merasa diri saya ini muslim kaffah kalau saya sendiri kerap abai dalam ibadah? Tak menghidupi, tak memaknai, tak menikmati ibadah saya. Apa bedanya saya dengan orang yang tidak sholat? Kalau shalat saya sendiri masih amburadul, masih teringat dunia?

"Celakalah orang yang lalai dalan shalatnya!" Itu kata Allah langsung. Seketika saya terhentak dan menangis pelan, jangan jangan saya termasuk orang yang celaka. Istighfar pun bergema dihati seraya mata mulai membasah karena merasa salah.

Kalau salah seorang sahabat rasul meminta dicabut busur panah dikakinya saat shalat hingga sang sahabat tak merasa kesakitan akibat tingkat kekhusuykan ibadahnya mencapai level dewa, apakabar saya yang berlagak seolah mau membeli surga dengan ibadah?

Tidak khusyuk dan tergesa hanya karena air mendidih. Sungguh tak layak saya masuk surga-Nya. Jangankan surga, emperannya saja saya tidak mampu menjangkaunya dengan kualitas ibadah saya yang pas pasan. Lalu saya teringat akan kata seorang lelaki senja yang pernah saya serempet kendaraanya kala saya SMA. Bapak itu memaafkan saya sambil berkata dijalan, saya ini mau cari apa mbak? Saya cuma pengen beribadah rajin agar bisa dapat surga.

Aaah sungguh manusia itu makhluk balas jasa ya. Apalagi banyak ayat atau hadist yang mengiming-imingi surga kalau kita ibadah ini dan itu, maka balasannya akan mendapat surga yang didalamnya ada 70 bidadari yang jelita matanya.

Lalu haruskah kita beribadah hanya karena iming iming surga?

Saya jadi ingat akan kajian beberapa waktu silam di sebuah masjid ditepi kolam kampus tercinta. Kamu tidak akan mampu masuk surga hanya karena ibadahmu. Yap itu benar bunda, dengan kualitas ibadah saya yang begitu buruknya, tak mungkin saya mendapat balasan surga.

Kamu bisa menikmati indahnya surga hanya dengan RAHMATNYA. Dan benar, saya hanya bisa berharap rahmat dari sang pemberi nikmat. Lalu saya lantas berfikir lagi bagaimana saya bisa mendaptkan rahmat itu?

Mungkin jawabannya ada di kata IKHLAS.
Ikhlas tak pernah memandang surga, ikhlas tak memandang manusia, ikhlas tak memandang rupa. Ia hadir begitu lembut dan murni entah dalam kondisi dilihat manusia atau ditengah malam buta tanpa seorangpun menatap padanya. Ia hadir tanpa pertimbangan balasan kemewahan surga dan bidadarinya. Ia hadir di hati manusia tanpa memandang rupa. Dan keikhlasan ini hanya Dia yang tau. Tak seorangpun tau kondisi keikhlasan diantara kita.

Hikmahnya, kita jadi tidak bisa men-cap atau menjudgment seseorang kafir, ga sah sholatnya, ga diterima haji atau amalannya karena bidah atau segudang alasan lainnya. Bisa jadi orang yang dicap amalannya ga diterima oleh manusia justru di mata Allah dan malaikatNya, ibadahnya sungguhlah ikhlas dan bernilai surga. Toh ada orang yang bisa masuk surga hanya karena memberi air minum anjing kan bunda?!, tentu dengan keikhlasan yang sempurna dan rahmat Allah yang tiada tara.

Wallahu 'alam bishowwab.

Bunda Nisa

bundanisa

Penulis bisa dihubungi melalui email: atikmuttaqin17@gmail.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!