Mencontohkan, Melibatkan, dan buat Menyenangkan: Cara Sederhana Melatih Si Kecil

Dear bunda,

Pernahkah bunda merasa sangat repot dengan berbagai kegiatan domestik yang membuat bunda merasa sangat lelah dan ingin mengeluh tiada henti?

Pasti pernah ya bun, kecuali bunda yang punya asisten banyak. Satu asisten untuk mengurusi dapur, dua asisten untuk mengurusi anak, dan satu asisten yang khusus membantu bunda mengurusi bisnis bunda😅.

Saya sendiri adalah seorang ibu yang tidak punya asisten di rumah. Suami membawa saya dan Nisa ke Makassar berdua saja. Total kami hanya bertiga di rumah kontrakan di Makassar, tanpa ada saudara atau keluarga besar di sini.

Semuanya harus saya tangani sendiri. Awalnya, saya takut sekali karena suami sering dinas keluar kota. Tapi kini saya menikmati peran saya sebagai ibu dan istri tanpa sanak famili di sini.

Memulai dari Hal yang Kecil

Saya mulai dengan melibatkan si kecil dalam segala aktifitas saya dimulai dari hal yang ringan misalnya memasak. Anak kecil selalu mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan menirukan hampir semua yang dilihatnya dan apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Misalnya ia melihat ayahnya memakai kaos kaki saat hendak berangkat kerja. Maka, seharian dia bisa minta dipakaikan kaos kaki di rumah.

Melihat hal tersebut saya jadi belajar untuk mencontohkan segala sesuatu pada Nisa. Saat memasak, saya selalu membawa aneka bumbu dan sayur di hadapan Nisa, mengajari dia tentang nama sayur dan warnanya lalu mengajaknya mengupas bawang merah dan putih bersama saya. Saya pakai pisau dan Nisa pakai tangan kosong. Selalu jauhkan gunting dan pisau serta hal hal berbahaya di sekitarnya.

Akhirnya Nisa hafal dengan rutinitas itu, ia siap sedia membantu mengupas bumbu dengan tangan mungilnya dan menguleknya di cobek. Selain itu Nisa juga bantu saya menyalakan kompor dan mendampingi saya memasak di dapur dengan menaiki kursi yang saya sediakan khusus untuknya.

Sesekali saya bilang padanya “Nisa begini cara ibu masak, ini sayur ibu buat buat adek, nanti mamam pake sayur ini ya “, dan Nisa hanya mengangguk manja.

Biasanya Nisa mau makan jika ia melihat proses memasaknya. Apalagi kalau rasanya pas di lidah Jawanya yang lebih suka masakan sedikit manis daripada asin.

Setelah memasak, saya ajak dia untuk mengumpulkan pakaian kotornya dengan cara permainan melempar baju kotor ke ember lalu menuangkan bubuk detergen dan air. Disini Nisa membantu menuangkan air dengan gayung kecil merah andalannya. Saat mencuci nisa biasanya hanya berdiri dan melihat saya mencuci pakaian maupun piring kotor.

Selesei mencuci Nisa sudah paham dengan aktifitas saya menjemur pakaian. Ia membawa ember kecil khusus pakaiannya ke tempat jemuran. Ia pun mengambilkan baju dari ember untuk saya jemur. Semua aktifitas ini bisa jadi pembiasaan yang bagus sekaligus menarik jika kita mengemasnya dengan cara yang apik dan menyenangkan.

Mulai Mengenalkan Buku Bacaan dan Mewarnai

Saya yang mulai mengumpulkan buku untuk pustaka nisa, menimbulkan dampak positif bagi Nisa. Ia juga jadi tertarik dengan buku yang saya kumpulkan. Buku buku yang saya kumpulkan tersebut kadang saya bawa beberapa ke perpustakaan bergerak di Gowa setiap hari Minggu. Hal ini membuatnya ikut senang dengan buku, apalagi buku berwarna dan banyak gambarnya.

Di perpustakaan keliling besutan teman saya di Gowa itu, Nisa juga mulai belajar mewarnai. Di sana disediakan kertas bergambar yang siap di warnai dan crayon aneka warna. Bosan mewarnai Nisa mulai tertarik untuk membuka buku dan mulai menunjuk nunjuk gambarnya sambil sesekali tertawa jika ia anggap gambarnya lucu.

Di rumah setiap malam saya berikan buku bergambar dan ia mulai asyik dengan bukunya. Meskipun pada akhirnya memang dia sobek sampulnya, tapi tidak apa apa, yang penting Nisa mau belajar dan mengenal buku.

Ia pun selalu menunjuk gambar yang ingin saya suarakan. Tiap malam sebelum tidur akhirnya saya selalu menirukan suara bebek, ayam, anjing, monyet sampai suara burung elang yang sangat abstrak bagi saya.

Bada maghrib juga saya ajak nisa untuk membaca quran, meskipun akhirnya saya juga tidak khusyuk membaca karena Nisa pasti penasaran dengan isinya dan membolak balikkan halamannya.

Bagi saya itu tidak masalah, toh itu bagian dari pembelajaran baginya. Nisa pun jadi hapal kebiasaan saya yang suka mencium Quran sehabis saya baca, dan iapun menirukannya. Mencium alquran sebelum ia letakkan di atas meja.

Selain itu, saya juga sering mengajak nisa ikut berbagai acara di luar, seperti pameran seni dan budaya, workshop bahkan kelas kelas singkat tentang suatu ketrampilan, misal kelas fotography, kelas menulis atau bahkan saya ajak dia untuk ikut mengajar di kelas inspirasi.

Baca juga pengalaman saya di Kelas Inspirasi Gowa

Akhir cerita, saya banyak belajar dari Nisa bahwa ketika kita ingin dia mengerti bahkan membantu pekerjaan dan aktifitas kita sehari hari, ia pun harus terlibat didalamnya. Dan ketika kita ingin dia bisa melakukan sesuatu, terlebih dahulu kita harus mencontohkannya.

Bunda Nisa

bundanisa

Penulis bisa dihubungi melalui email: atikmuttaqin17@gmail.com

You may also like...

2 Responses

  1. Anak-anak memang seperti spons ya mba Atik yang menyerap semua hal di sekitar, maka orang tua harus pintar-pintar mengisi memory nya dengan hal-hal yang positif untuk mereka tiru, lakukan dan menjadi kebiasaan. Kalo saya liat fotonya, kayaknya usia sma nih mba NIsa sudah punya resto sendiri yaaa… Aamiin.

    • bundanisa says:

      Aamiin ya Allah🙏🏻🙏🏻,iya kak memang harus hati hati bertindak dan berucap sama anak kecil. Bisa langsung niruin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!