Pasar Kebon Watu Gede:Destinasi Digital dengan Kearifan Lokal yang Memberdayakan Masyarakat

Suasana Pasar Kebon Watu Gede. Sumber foto: Instagram Pasar Kebon Watu Gede

Pasar Kebon Watu Gede ini merupakan pasar dengan konsep pasar digital yang menjual keunikan dan kekhasan daerah setempat. Model pasar digital atau dikenal dengan destinasi digital inilah yang kini digalakkan oleh Kementerian Pariwisata. Pasar ini juga terinspirasi dari Pasar Papringan (yang berarti Pekarangan penuh bambu) di daerah Temanggung Jawa Tengah.

Pasar Kebon Watu Gede ini berada di dusun Jetak desa Sidorejo Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang. Kurang lebih 7 kilometer dari Museum BPK atau 15 menit dari alun alun kota Magelang.

Pasar ini diluncurkan sejak 11 Februari 2018, dan buka setiap hari Minggu Pahing dan Minggu Legi setiap bulannya pada pukul 6 pagi hingga 12 siang.

Jadwal yang pasti ini memudahkan calon pengunjung untuk mengatur jadwal.  Apalagi, ada pasar sejenis yang juga buka menggunakan jadwal pasaran dalam kalender Jawa. Yakni Pasar Papringan, Temanggung yang dibuka setiap Minggu Wage.

Pasar di area kebun bambu ini mengadopsi pasar wisata di daerah lain seperti Pasar Karetan Kendal, Pasar Kakilangit Mangunan Jogja maupun Pasar Papringan Temanggung.

Pasar yang Unik dan Special

Bagi saya selaku pengunjung, pasar ini jadi sangat special. Kenapa? karena pasar ini tak hanya menjual makanan khas atau makanan tradisional lengkap dengan segala pernak perniknya, tapi pasar ini juga menjual suasana pedesaaan, kehangatan, keramahan dan keunikan yang berbeda.

Kita bisa sampai ke lokasi dengan motor, mobil atau transportasi online seperti gojek atau grab. Dari jalan raya Bandongan kita akan diarahkan dengan baliho baliho Pasar Kebon Watu Gede di sepanjang jalan yang sudah dekat dengan lokasi pasar.

Sesampai di pintu gerbang Pasar Watu Gede kita masih harus jalan kaki membelah daerah persawahan sepanjang kurang lebih 900 meter. Jauhnya jarak dari jalan besar ke pasar kebon watu gede, tak akan membuat kita lelah karena mata kita dimanjakan oleh hamparan sawah, pemandangan gunung Sumbing di sebalah barat, gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, gazebo yang bisa digunakan untuk istirahat jika lelah berjalan, serta area selfie dan cafe tepi sawah.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: Instagram Pasar Kebon Watu Gede

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: Dokumen Pribadi

Jalanan selebar kurang lebih 1,5 meter menuju pasar ini dihiasi aneka hiasan dan membuat perjalanan tak membosankan. Jika kita lelah, kita juga bisa naik ojek seharga 2 ribu rupiah saja.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sesampai di pasar seluas 5000 meter persegi ini, kita akan disambut oleh pemuda pemudi desa yang memakai pakaian adat jawa lengkap dengan blangkon dan kebayanya. Suasana bertambah njawani dengan alunan Tembang Jawa yang dinyanyikan langsung oleh seniman setempat di area Panggung. Rumpun pohon bambu dan jalan beralas tanah (bukan aspal apalagi paving blok), serta sawah di sekelilingnya membuat saya betah berlama lama di pasar ini. Belum lagi keramahan penjualnya yang membuat saya kesemsem, bahkan salah satu penjual menawarkan air minum gratis ketika melihat saya yang sedang hamil ini berjalan ngos-ngosan dan tampak kelelahan.

Transaksi di pasar ini menggunakan uang Benggol dari bambu yang bertuliskan pasar kebon watu gede. Satu benggolnya dihargai 2 ribu rupiah. Pengunjung banyak datang dari sekitar Magelang maupun dari kota kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar bahkan dari luar negeri seperti Jerman dan Amerika.

Uang Benggol. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: Dokumentasi Pasar Kebon Watu Gede

Sumber: Dokumentasi Pasar Kebon Watu Gede[/caption]

Sumber: Dokumentasi Pasar Kebon Watu Gede

Tak hanya dimanjakan oleh suasananya yang tradisional, homy dan njawani, pasar ini juga menyuguhkan aneka kesenian jawa yang bisa dinikmati pengunjung seperti kesenian Jathilan, band jawa, tari tarian hingga pentas gamelan.

Sumber: Instagram Pasar Kebon Watu Gede

Makanan yang disajikan juga ga kalah unik. Ada perawan kenes yaitu semacam pisang bakar yang disiram kuah santal kental yang gurih manis, ada rondo kemul semacam jenang yang dibungkus jadah lalu dibakar. Ada Buntil daun talas, aneka jenang, cenil, keripik, jamu, gethuk, lanting, geblek,nasi bakar, bubur, es buah hingga sayur mayur segar dari petani lokal.

Sumber: Instagram Pasar Kebon Watu Gede

selain itu dijual juga aneka cinderamata atau mainan tradisional seperti seruling bambu, tempat makan dan minum jaman doeloe, boneka bambu, tas anyam, topi, dan lain lain.

Sumber: Instagram Pasar Kebon Watu Gede

Soal harga jangan tanya lagi kemurahannya, untuk warga yang biasa hidup di kota besar, belanja di sini benar benar membuat kalap karena harga makanan dan minumannya dijual mulai dari satu benggol hingga 4 benggol saja. Jamu misalnya, dipatok seharga 1 benggol atau 2 ribu rupiah per mangkuk kayunya. Sate juga 1 benggol per tusuknya dan makanan seperti sop senerek atau soto dijual 2 benggol per porsinya. Murah sekali bukan?!

Di pasar ini juga disedikan semacam area kids zone yang berisi aneka permainan tradisional yang bisa dimainkan oleh anak anak secara gratis. Untuk yang gemar berfoto bisa menyewa properti foto berupa pakaian kebaya, beskap dan caping atau blangkon untuk dipakai berswa foto.

Bermain jungkat jungkit bambu. Sumber: Instagram Pasar Kebon Watu Gede

Berkunjung ke pasar ini lalu mengingatkan saya akan jaman kerajaan kerajaan jawa masa lampau. Aaah indahnya bernostalgia.

Gema pemberdayaan yang Bergaung Kencang

Hal yang paling saya suka dari pasar ini adalah dari sisi pemberdayaan masyarakatnya, terutama pemberdayaan perempuan di Dusun Jetak Sidorejo Bandongan Magelang. Hampir 95 persen penjual makanan dan minuman di pasar ini adalah perempuan. Mulai dari perempuan muda, paruh baya hingga ibu ibu sepuh yang berjualan dengan senyum semangat di wajahnya.

Raut bahagia terpancar dari wajah wajah perempuan perkasa Dusun Jetak. Mereka dengan ramah melayani pembeli tanpa jarak. Benar benar seperti berbelanja dengan keluarga sendiri. Ada yang sebagian mengajak anaknya, keponakannya bahkan cucunya untuk berjualan dan melayani pembeli.

“Monggo mbak, pinarak mriki” kata mbak Sohib penjual Perawan Kenes, yang artinya mari mbak singgah di sini.

Mbak Sohib penjual kue Perawan Kenes dan Tahu Gejrot. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Saat saya tanya tanya tentang penghasilan yang didapat dari pasar ini, dengan terbuka mbak Sohib bercerita, “alhamdulillah mbak hasil yg didapat dari berjualan di Watu Gede sangat membantu perekonomian keluarga. Tiap buka saya bisa dapat 800 ribu-1,9 juta. Saya juga senang karena tak hanya saya yang menikmati keuntungan tapi juga dibagi untuk membantu anak yatim dan kas desa.” Kata mbak Sohib.

Lebih lanjut mbak Sohib menjelaskan suka duka berjualan di Pasar Kebon Watu Gede ini, “Banyak sukanya mbak daripada dukanya, apalagi kalau pengunjungnya banyak dan dagangan laris manis. Dukanya kadang ribet karena saya harus meninggalkan anak saya yg masih kecil (usia 1 dan 8 tahun). Saya harus bersiap pagi pagi sekali untuk jualan. Subuh harus standby dagangan dan jam 6 tepat harus ada dilokasi. Ribet banget mbak, tapi saya senang dan menikmati.” Ungkap mbak Sohib dengan wajah berbinar.

Keramahan dan ketulusan benar benar saya rasakan di tempat ini. Bahkan, saat saya nampak kelelahan, mbak Peni penjual jagung bakar seharga 2 benggol, menawarkan bekal air putihnya untuk saya minum secara percuma. Rasanya segar sekali dan bikin bahagia, karena disamping gratis juga penjualnya yang ramah level dewa.

Tak hanya kaum hawa, kaum adam dan pemuda desa juga digerakkan dalam pelayanan parkir, ojek dari gerbang masuk menuju pasar hingga jasa cukur rambut.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tak hanya itu, teman teman difabel pun diberdayakan di sini.

Belajar membatik dengan harga 10 benggol. Sumber: Instagram Pasar Kebon Watu Gede

Hal yang paling membuat saya tercengang adalah omzet dari pasar ini. Pasar Kebon watu gede bisa meraup 30-100 juta sekali buka dengan total pengunjung sekitar 1500-6000 orang.

Antrian pengunjung yang mau menukarkan uang rupiahnya ke Benggol. Sumber: Instagram Pasar Kebon Watu Gede

Pembagian keuntungannya pun dilakukan secara transparan yaitu 12,5 persen untuk pedagang dan pengelola yakni karang taruna dusun Jetak, 10 persen untuk operasional dan pengembangan, serta 2,5 persen untuk santunan anak yatim. Mantap kan?!

Di pasar ini ada sekitar 60 penjual yang 95 persennya perempuan, yang dibagi ke dalam 3 blok yaitu blok A,B dan C. Di sebelah kanan area penjual, ada panggung besar dan halaman yang luas untuk menikmati pertunjukan live tiap pasar ini beroperasi.

Untuk modal sendiri, para pedagang ada yang memakai dana pribadi atau swadaya dan ada yang meminjam dana dari semacam koperasi desa yang berasal dari keuntungan pasar.

Konsep ramah lingkungan juga diusung dalam pengembangan pasar ini. Tidak boleh ada plastik di antara kita. Semua belanjaan baik makanan atau minuman, baik dimakan ditempat atau dibawa pulang menggunakan alas makan dari daun, batok kelapa atau gerabah. Pengunjung pasar wisata kuliner ini juga dilarang merokok.

Plastik haram digunakan di pasar ini. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Di setiap blok ada beberapa titik tempat sampah dari bambu agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan. Dari pengeras suara, sesekali diingatkan agar pengunjung mengelola sampahnya dengan benar. Lingkungan pasar pun terlihat bersih. Jalan tanah di jalur pasar juga bersih. Membuat pengunjung kerasan berlama lama di pasar ini. Saya sendiri dari jam 6.30 pagi sudah menuju ke pasar ini dan pulang pukul 11 siang dengan kondisi pasar yang semakin riuh dan ramai.

Sesuai dengan konsep besar yang diusungnya yaitu pasar digital, para pengunjung di tempat ini banyak difasilitasi dengan spot spot yang menarik. Pengunjungpun banyak yang menenteng kamera digital. Tidak hanya memanfaatkan kamera handphone, banyak yang datang dengan kamera mirrorless atau DSLR dengan aneka lensa yang bening. Hal ini dikarenakan pengelola pasar sering menyelenggarakan lomba foto di pasar ini dengan hadiah yang menarik hati dan menarik kantong.

Pasar seluas setengah hektare ini tak pelak menjadi ladang berburu obyek yang chic, instagramable dan instagenic. Berkunjung ke pasar ini, hati senang, perut kenyang, memory cardpun penuh kenangan.

Yuk agendakan main ke Pasar Kebon Watu Gede dan nikmati keunikannya.

Bundanisa

bundanisa

Penulis bisa dihubungi melalui email: atikmuttaqin17@gmail.com

You may also like...

25 Responses

  1. keren mb, semangat berkarya dan berbagi ceritaa. gasss

  2. Ari says:

    Mantap review nya

  3. shokhibatul says:

    mantaaap.tulisannya menarik sekali ,semoga semakin sukses dengan karyanya.

  4. Wawan says:

    Detail banget reviewnya mba, keren….. d tunggu reviewnya utk daerah lain. Klo bisa d sertakan juga ongkos dari terminal terdekat mba supaya para traveler/backpacker bisa memperkirakan biayanya

    • bundanisa says:

      iya ya, harusnya mb sertain detail harga dan penginapan di sana. Lha mb kesana gratis je, jd ga kepikiran buat kasih estimasi biaya perjalanan ke sana😂🙈. Lain kali deh klo mb review tempat wisata lagi insyaalloh bakal dilengkapi. Makasih wawan masukannya🙏🏻🙏🏻😄😄

  5. Apih says:

    Jadi tertarik pengen ksana..
    Keknya jadul jadul banget ya makanannya.
    .
    Pasti seru nih klo ajak kluarga ku kesana

    • bundanisa says:

      iya mas seru banget, tempat ini family friendly banget. Jangan lupa utk selalu nggandeng istri dan anaknya kenceng2, biar ga misah satu sama lain karena ruaame banget mas😄😄😄

  6. tayatumada says:

    ini kayak pasar digital yg ada di benteng somba opu yah kak, pake uang2an dr kayu.
    btw unik skali t4 terus suasanany juga segar skali banyak pemandangan yang hijau hijau

  7. Fani says:

    Kereeennn..sepertinya pasar seperti ini bisa di lestarikan bahkan bisa di galakkan di daerah daerah lain juga,nilai tradisionalnya kental banget..

  8. Abby Onety says:

    Kereenya nih pasar digital. Pasar seperti ini sdh ada juga di Makassar kan? Tepatnya di Benteng Somba Opu. Masih baru sih… masih perlu banget disosialisakan terutama untuk para wisatawan. Btw tukisannya keren dek

    • bundanisa says:

      iya kak, konsepnya sama kayak pasar lontara karena sama sama diinisiasi sama kemenpar, tapi pasar kebon watugede lebih senior sedikit dr pasar lontara di somba opu itu

  9. tari artika says:

    aaaaaakkk baguusnyaaa. Aku loh mbak belom pernah nyampe ke Magelang yaampuun. btw salfok sama mukanya Nisa di foto di atas hahaha

  10. Unga says:

    Wadduuh, tadinya kalau dapat jatah liburan maunya ke Bali lagi gitu, namun nampakanya Pasar Kebo Watu Gede ini jauh lebih menarik untuk dikunjungi yah mba…

  11. Adda says:

    keren dan bagus banget konsepnya pasar ini. part yang paling berkesan bagi saya bagaimana merangkul kearifan lokal yang ada dan memadukan dengan khazanah modern saat ini

  12. Raya Putra says:

    Wahh luar biasa inovasi di pasarnya😍😍 jadi pengen banget kesana, pasarnya jg kliatannya instagramable banget nih😍. Duhh smoga bisa kesana tahun 2019 nnti😁

  13. Nurul Asri says:

    Menarik sekali konsep pasarnya, salah satu contoh pariwisata Indonesia yang harus dibudayakan juga di daerah lain 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!