Tabayun Digital: Sebuah Usaha Guna Bijak Bermedia

Hi bunda,

Alhamdulillah kemarin tanggal 4 Oktober 2017 saya mendapatkan kesempatan untuk ikut sebuah forum literasi media yang digagas oleh Kemkominfo. Bertempat di Hotel Aryaduta Makassar forum literasi media ini mengambil tajuk Bijak Bermedia Sosial. Acara yang digagas oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika RI ini mengajak para blogger, media sosial enthusiasm, dan netizen pada umumnya untuk melek literasi media khususnya media digital.

Setiap peserta dibekali dengan buku panduan Saatnya Kita Melek Media yang diterbitkan oleh Kominfo bekerjasama dengan Pusat Studi Komunikasi, Media, dan Budaya Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung.

Acara yang berlangsung sekitar 3 jam itu dimulai dengan pembukaan oleh pihak Kemkominfo dan dilanjut dengan dua pemateri yaitu Bapak Nukman Luthfie dan Prof. Henry Subiakto.

Materi pertama disampaikan oleh Bapak Nukman Luthfie selaku influencer di media sosial. Beliau menyampaikan materi dengan model Diskusi. Beliau sedikit memaparkan bagaimana kita memaksimalkan media sosial kita dengan bijak dan positif yang sesekali di sela dengan pertanyaan dari peserta. Diskusi berlangsung sangat hidup dan interaktif.

Materi berikutnya disampaikan oleh Prof Hendri Subiakto yang menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Hukum Kominfo. Lebih lanjut Prof Hendry mengatakan bahwa Indonesia memperoleh momentum pelemahan dengan datangnya era post truth.

Era dimana setiap orang dengan “bebas” berkomunikasi di media sosial tanpa identitas dan terjadilah komunikasi tanpa norma dan etika. Hasilnya, hate speech dan hoax merajalela dan negara menjadi semakin lemah dalam komunikasi digital. Hal ini terlihat dalam fenomena konflik berdasar politik identitas yang semakin memanas setiap kali jelang pemilihan pilkada atau pemilihan umum presiden misalnya.

Kini, hoax dan ujaran kebencian telah menjadi bisnis dengan pangsa pasar yang luas. Masih banyak orang orang Indonesia yang doyan dengan hoax dan ujaran kebencian ini dan dengan sukarela menghabiskan kuota untuk menyebarluaskannya.

Bahkan sindikat pembuat berita hoax dan hate speech ini menjadi langganan pelaku politik untuk merekayasa berita di media sosial untuk perolehan suara yang sejatinya merusak makna demokrasi itu sendiri.

Mengenali Hoax

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal virus hoax di media sosial kita? Ada beberapa cara seperti yang dikemukakan oleh Prof. Hendry seperti:

1. Menciptakan kecemasan,kebencian, pengkultusan atau pemujaan berlebihan pada satu tokoh atau aliran

2. Sumber tidak jelas, tidak ada kontak yang bisa dihubungi untuk klarifikasi kebenaran

3. Berisi pesan provokatif dengan kata kata: awas, viralkan, lawan dan kata kata bernada provokatif lainnya

4. Memberikan julukan atau sebutan tertentu bermakna peyoratif pada pihak tertentu, misalkan antek PKI dan sebutan sebutan lainnya yang tidak sedap didengar telinga

5. Menggunakan buzzer atau robot untuk mendukung atau menyerang pihak lainnya.

6. Menggunakan gambar yang tidak jelas sumbernya.

Dampak buruk maraknya hoax

Dampak buruk dari hoax dan hate speech ini adalah:

1. Terciptanya masyarakat yang tidak percaya lagi pada pemerintah dan ini adalah tujuan dari para penyebar hoax dan ujaran kebencian tersebut.

2. Maraknya opini yang salah karena teracuni oleh informasi yang tidak benar

3. Masyarakat menjadi saling curiga

4. Kecemasan dan kebencian merajalela

5. Menyulut konflik dan kerusuhan

6. Menumbuhkan sikap extrimisme

7. Dan ini yang paling parah, demokrasi rusak dan NKRI terpecah.

Tabayun digital: sebuah upaya menangkal hoax dan ujaran kebencian

Sudah selayaknya untuk kita, terutama kaum hawa yang suka dengan gosip ini untuk selalu cek dan ricek atau tabayun terhadap sumber informasi yang beredar di media sosial kita.

Ada beragam tools yang bisa kita gunakan seperti aplikasi fact checker, turn back hoax, google image dan upaya tabayun lainnya. Ini penting dilakukan agar kita tidak melakukan dosa berjamaah dengan ikut menyebarluaskan berita tersebut via media sosial kita.

Kritis terhadap informasi yang beredar di whatsapp grup misalnya, adalah sikap yang harus selalu diambil untuk menyaring informasi yang masuk. Selalu mempertanyakan kebenaran informasi yang beredar dan tidak menelan mentah mentah informasi yang masuk ke media sosial kita.

Hoax dan ujaran kebencian haruslah kita perangi bersama bunda karena ia berpotensi untuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu kita harus menyebarkan dan memperbanyak content positif yang menumbuhkan rasa persatuan serta optimisme orang orang di sekitar kita.

Aktifitas digital economy bisa menjadi alternatif untuk mengalihkan medsos kita dari aktifitas penyebaran hoax dan ujaran kebencian. Digital economy mampu menumbuhkan jiwa entrepreneur kita bunda dengan memanfaatkan media sosial yang ada. Daripada kita menggosip di media sosial ya bunda, mending kita jualan di medsos, atau menyebarkan dan membanjiri media sosial kita dengan pesan pesan optimisme dan menebar kebaikan.

Stay positif dan berpegang teguh pada nilai nilai kebaikan bersama harus menjadi acuan kita bunda dalam bermedia sosial. Yuk bunda ikut dalam menciptakan suasana Indonesia yang aman tentram dan dinamis melalui media sosial kita.

Bunda Nisa

Leave a Comment